Tak Ziarah ke Winduherang, Tradisi Hari Jadi Kuningan ke-528 Dipertanyakan: “Ada Apa dengan Bupati?”

Kuningan- Media Litigasi.com

Rangkaian Hari Jadi Kuningan ke-528 tahun 2026 mulai menyisakan tanda tanya. Bukan karena kemeriahan acara yang kurang, melainkan karena satu tradisi yang selama ini melekat dalam setiap peringatan Hari Jadi Kuningan justru dinilai mengalami perubahan yang tidak biasa.

Menjelang dimulainya euforia Hari Jadi Kuningan yang dijadwalkan berlangsung mulai 1 September hingga seluruh rangkaian kegiatan selesai, agenda ziarah ke makam para leluhur Kuningan selama ini menjadi salah satu tradisi yang nyaris tak pernah absen.

Ziarah bukan sekadar seremoni. Bagi masyarakat, terutama warga Kelurahan Winduherang, tradisi tersebut merupakan simbol penghormatan kepada para pendahulu dan tokoh yang diyakini memiliki peran penting dalam perjalanan sejarah Kuningan.

Namun, pada Kamis (27/8/2026), muncul pemandangan yang berbeda.

Dalam agenda ziarah rangkaian Hari Jadi Kuningan ke-528, Bupati Kuningan Dian Rachmat Yanuar disebut tidak hadir langsung dalam ziarah ke makam leluhur Kuningan yang berada di Kelurahan Winduherang.

Ziarah ke makam Pangeran Arya Adipati Ewangga dan Pangeran Ramajaksa Patikusuma tersebut diwakilkan kepada Ketua DPRD Kabupaten Kuningan bersama rombongan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) lainnya.

Bagi sebagian masyarakat Winduherang, persoalannya bukan mengenai siapa yang datang berziarah.

Masyarakat tidak mempersoalkan kehadiran Ketua DPRD maupun unsur Forkopimda lainnya. Yang menjadi sorotan justru absennya Bupati secara langsung dalam sebuah tradisi yang selama ini dianggap memiliki makna historis dan emosional tersendiri.

“Ada Apa? Ini Tanda Tanya Besar”

Ketua Karang Taruna Sang Adipati Kelurahan Winduherang, Angga Septian Nugraha, mempertanyakan perubahan tersebut.

Menurutnya, ziarah ke Winduherang menjelang Hari Jadi Kuningan selama ini menjadi tradisi yang dilakukan oleh para Bupati Kuningan terdahulu.

“Ada apakah? Ini tanda tanya besar, kenapa Bupati sekarang tidak ziarah ke Winduherang? Sedangkan di Winduherang sudah jelas makam leluhur Kuningan pertama, Sang Adipati Ewangga,” ujar Angga.

Ia menegaskan, masyarakat tidak sedang mempersoalkan pejabat lain yang datang untuk berziarah.

“Bukan pejabat lain atau orang lain tidak boleh ziarah ke Winduherang. Pahami konteksnya. Tapi sejak zaman dahulu, siapa pun Bupati-nya di Kuningan, saat menjelang Hari Jadi Kuningan itu pasti ziarah ke Winduherang, bukan mewakilkan,” tegasnya.

Bagi Angga, persoalan ini menyentuh lebih dari sekadar agenda dalam sebuah rundown.

Ada sebuah tradisi yang menurutnya selama bertahun-tahun telah menjadi bagian dari cara pemerintah daerah menghormati sejarah dan para pendahulu Kuningan.

Ketika tradisi tersebut tiba-tiba berubah, wajar jika kemudian publik bertanya: apa yang sebenarnya terjadi?

Kekecewaan dari Winduherang

Nada serupa disampaikan Wakil Ketua LPM Kelurahan Winduherang, Drs. H. Udi Suhendi, M.Si.

Ia mengaku kecewa dengan ketidakhadiran langsung Bupati dalam agenda ziarah tersebut.

“Saya sebagai Wakil Ketua LPM khususnya dan warga masyarakat Winduherang tentunya sangat kecewa dengan terjadinya hal seperti ini,” ungkapnya.

Udi menuturkan, selama yang ia ketahui, tidak pernah terjadi Bupati Kuningan mewakilkan agenda ziarah ke Winduherang menjelang Hari Jadi Kuningan.

“Siapapun Bupatinya, ketika saat menjelang Hari Jadi Kuningan, tidak pernah mewakilkan ziarah ke Winduherang, ke makam Pangeran Arya Adipati Ewangga dan Pangeran Ramajaksa Patikusuma yang berada di Kelurahan Winduherang. Ini ada apa?” ujarnya dengan nada penuh emosi.

Kekecewaan itu bahkan ia ungkapkan melalui sebuah ungkapan Sunda yang sarat makna.

“Mun kieu carana mah Bupati Kuningan nu ayeuna, erek nukangan kolot.”

Secara makna, ungkapan tersebut menggambarkan kekhawatiran bahwa apabila tradisi dan penghormatan terhadap para pendahulu mulai ditinggalkan, maka generasi sekarang seolah membelakangi para leluhurnya.

Menurut Udi, para Bupati Kuningan terdahulu selalu menyempatkan dan memprioritaskan waktu untuk berziarah ke makam para leluhur dan pendiri Kuningan yang berada di Winduherang.

Karena itu, ketidakhadiran Bupati secara langsung tahun ini dinilai menjadi sesuatu yang tidak biasa.

Bukan Sekadar Ziarah

Bagi masyarakat Winduherang, makam para leluhur bukan hanya sebuah tempat yang dikunjungi dalam agenda tahunan.

Di sana terdapat memori sejarah.

Di sana ada jejak para pendahulu.

Dan di sana pula tersimpan simbol tentang dari mana perjalanan Kuningan bermula.

Karena itu, ziarah menjelang Hari Jadi Kuningan memiliki pesan simbolik: sebelum merayakan apa yang telah dicapai hari ini, pemerintah dan masyarakat kembali mengingat siapa yang telah meletakkan dasar perjalanan Kuningan pada masa lalu.

Dalam konteks inilah, ketidakhadiran Bupati dalam agenda ziarah tahun ini kemudian menjadi sorotan.

Apalagi, agenda tersebut selama ini dipandang sebagai tradisi yang dilakukan lintas kepemimpinan.

Udi pun mengingatkan sebuah falsafah Sunda:

“Hana nguni, hana mangke. Tan hana nguni, tan hana mangke.”

Yang secara sederhana bermakna, ada masa kini karena ada masa lalu. Tidak akan ada hari ini tanpa adanya masa lalu.

Sebuah pesan bahwa pembangunan dan kepemimpinan hari ini tidak lahir dari ruang kosong. Ada sejarah, ada perjuangan, dan ada para pendahulu yang menjadi bagian dari perjalanan panjang sebuah daerah.

“Entah Ini Pertanda Apa”

Udi mengaku tidak ingin terlalu jauh menafsirkan perubahan tersebut.

Ia hanya ingin menyampaikan bahwa masyarakat Winduherang merasa kecewa.

“Entah ini pertanda apa?

Saya tidak ingin terlalu jauh menafsirkan. Satu pokok yang paling utama, kami masyarakat Winduherang sangat kecewa dengan kecerobohan ini,” katanya.

Pernyataan tersebut sekaligus membuka ruang pertanyaan yang lebih besar: apakah absennya Bupati dalam agenda ziarah ke Winduherang hanya persoalan teknis dan penjadwalan, atau memang terdapat perubahan dalam pola penghormatan pemerintah terhadap tradisi sejarah Kuningan?

Sebab, jika yang berubah hanya siapa yang hadir, mungkin persoalannya sederhana.

Tetapi jika yang berubah adalah cara pemerintah memaknai sebuah tradisi yang telah berlangsung dari masa ke masa, maka persoalannya menjadi jauh lebih dalam.

Hari Jadi bukan hanya tentang panggung, seremoni, kemeriahan, dan deretan agenda.

Hari Jadi juga tentang ingatan.

Tentang menghormati mereka yang datang lebih dahulu.

Dan tentang memastikan bahwa ketika Kuningan merayakan usianya yang ke-528, sejarah tidak sekadar disebut dalam pidato—tetapi juga dihormati melalui tindakan.

Kini, bola berada di tangan Pemerintah Kabupaten Kuningan.

Mengapa Bupati tidak hadir langsung dalam ziarah ke Winduherang?

Pertanyaan sederhana itu mungkin membutuhkan jawaban sederhana pula.

Namun bagi masyarakat Winduherang, jawabannya penting.

Sebab mereka tidak sedang meminta perlakuan istimewa.

Mereka hanya ingin satu tradisi yang selama ini dijaga tetap dihormati.

Karena sebagaimana falsafah yang mereka pegang:

“Moal aya ayeuna mun euweuh baheula.”

Tidak akan ada hari ini jika tidak ada masa lalu.

red

Pos terkait